Bisnis

Pergerakan emas dan perak kompak mengalami rally pelemahan sejak Maret. Emas sempat mengalami kenaikan puncaknya

Emas sempat mengalami kenaikan puncaknya

Belakangan ini terjadi fenomena yang cukup jarang terjadi di pasar keuangan dunia. Di saat konflik geopolitik masih memanas dan ketidakpastian ekonomi belum mereda, harga emas dan perak justru kian tertekan. Padahal selama ini kita mengenal keduanya sebagai safe haven, aset yang biasanya diburu saat dunia sedang tidak baik-baik saja. Bahkan sejumlah lembaga keuangan internasional kini memangkas proyeksi harga emas mereka, menandakan risiko pelemahan masih cukup besar dalam jangka pendek.

Pergerakan emas dan perak kompak mengalami rally pelemahan sejak Maret. Emas sempat mengalami kenaikan puncaknya pada Januari di angka 5.300 atau sekitar Rp3,1 juta dan bertahan hingga Maret, namun sejak saat itu mengalami penurunan hingga berada di posisi 4.071,5 atau sekitar Rp2,6 juta. Fenomena serupa terjadi pada perak yang sempat mencapai puncaknya di Januari dengan angka 121 per ons, sebelum akhirnya turun signifikan hingga berada di posisi 61 per ons.

Pelemahan harga emas saat ini didasari oleh kondisi di mana dolar Amerika Serikat kembali menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat meningkat, sehingga ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas. Akibatnya, modal yang seharusnya dialokasikan kepada emas beralih ke dolar dan obligasi. Selain itu, harga emas yang sempat menyentuh level tertinggi dalam 2 tahun terakhir memicu banyak investor untuk melakukan aksi profit taking.

Pandangan terhadap prospek investasi emas saat ini tidak seragam. Investor kawakan Robert Kiyosaki mengaku harga emas dan perak masih berpotensi terkoreksi namun ia memilih menunggu momen untuk menambah akumulasi. Di sisi lain, Goldman Sachs memangkas proyeksi harga emas menjadi 4.900 per ons hingga akhir tahun 2026 karena risiko jangka pendek, meskipun tetap optimistis dalam jangka panjang. Sementara itu, JP Morgan justru sangat optimistis dengan memproyeksikan harga emas bisa melampaui 6.000 per ons tahun ini.

Terkait perak, harganya cenderung bergerak lebih liar dibandingkan emas karena karakteristik uniknya sebagai logam mulia sekaligus komoditas industri. Meskipun diprediksi akan naik karena defisit pasokan selama 6 tahun berturut-turut, nyatanya perak justru tertekan karena pengalihan aset investor ke dolar dan obligasi AS. Penguatan dolar juga membuat harga perak menjadi lebih mahal bagi pembeli di negara lain, yang akhirnya menekan permintaan global.

Sebagai kesimpulan, apakah saat ini waktu yang tepat untuk membeli bergantung pada horizon investasi masing-masing. Dalam jangka pendek, risiko koreksi masih terbuka lebar akibat kebijakan suku bunga, penguatan dolar, dan imbal hasil obligasi. Namun, untuk jangka menengah dan panjang, banyak analis menilai fundamental emas masih relatif kuat. Perak menawarkan potensi kenaikan lebih besar namun dengan fluktuasi yang jauh lebih tinggi karena ketergantungannya pada sektor industri. Keputusan investasi pada akhirnya harus disesuaikan dengan strategi dan profil risiko masing-masing individu.

Via
CNBC Indonesia
Source
YouTube

Anas Ibrahim

Tukang Kuli Panggul Gajih Kecil Di Indonesia Cikampek Dauwan Jawa Barat 41373

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button