Mengerikan Menegangkan! Pesawat Digemparkan Gempa Venezuela Magnitudo 7,5, Penumpang Kaget Ketakutan
Pesawat Digemparkan Gempa Venezuela Magnitudo 7,5, Penumpang Kaget Ketakutan
Para penumpang di dalam pesawat komersil mengalami momen-momen mengerikan ketika dua gempa bumi dahsyat mengguncang Venezuela saat pesawat tersebut parkir di Bandara Internasional Simon Polivar. Video yang direkam di dalam kabin menunjukkan pesawat terguncang hebat saat dua gempa bumi dahsyat dengan magnitudo 7,2 dan 7,5 melanda Venezuela. Pesawat Rutaka Airlines tersebut sedang mengoperasikan penerbangan dan berada di darat ketika gempa bumi terjadi, membuat para penumpang ketakutan. Gempa bumi mengguncang Venezuela Utara dengan selang waktu 39 detik pada tanggal 24 Juni lalu. Otoritas Venezuela menyatakan operasi penyelamatan terus berlanjut di Karakas dan daerah lain yang terkena dampak. Gempa bumi tersebut sejauh ini telah menewaskan 589 orang dan melukai lebih dari 2.900 orang.
Sementara itu, seorang ayah dan putrinya yang masih kecil berhasil lolos dari bahaya setelah mendapat notifikasi bahaya gempa bumi dari ponsel hanya beberapa detik sebelum gempa dahsyat mengguncang Venezuela. Alarm gempa bumi berbunyi di ponsel, memberikan peringatan kepada seorang ayah sekitar 10 detik sebelum guncangan terjadi. Pria tersebut segera menyelamatkan putrinya dan keduanya bergegas keluar tepat sebelum gempa bumi dahsyat terjadi. Video tersebut menjadi viral di media sosial dengan banyak pengguna menyebut peringatan itu sebagai alat penyelamat korban gempa.
Di sisi lain, tiga polisi di Gaza tewas dan belasan lainnya luka-luka akibat serangan Zionis Israel di dekat kamp pengungsi di Gaza. Rekaman video menunjukkan sebuah mobil yang dilalap api, sementara ambulans dan tim pertahanan sipil berusaha menolong para korban. Menurut otoritas Gaza, serangan tersebut ditujukan terhadap sebuah kendaraan di dekat kamp pengungsi Al-Magazi di Gaza Tengah. Para korban luka langsung dibawa ke Rumah Sakit Martir Al-Aqso di Deir al-Balah untuk mendapatkan perawatan.
Pengamat hubungan internasional dari President University, Teuku Rezasyah, menyebut bahwa saling serang antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz mencederai perjanjian yang ditandatangani pada 17 Juni lalu. Saat ini, terdapat ketidakseimbangan informasi terkait insiden tersebut. Laporan dari CENTCOM menyebut adanya serangan Iran atas kapal Singapura, namun sumber dari China menyatakan bahwa ini adalah respon Iran terhadap serangan Amerika Serikat di pelabuhan-pelabuhan bagian selatan. Kejadian ini melibatkan kapal kargo Singapura bernama Ever Lovely Conon yang diterjang peluru kendali Iran. Konflik ini diperkirakan akan berdampak pada kenaikan harga minyak dan menyulitkan implementasi kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.
Sebelumnya, Amerika Serikat, Lebanon, dan Israel menandatangani rancangan kesepakatan perdamaian trilateral di Washington DC. Kesepakatan damai ini diharapkan dapat mengakhiri perang antara Hizbullah yang didukung Iran dan Israel di Lebanon Selatan, namun sayangnya rancangan kesepakatan tersebut tidak mengikutsertakan kelompok pejuang Hizbullah.

