Bagi Amerika Serikat, kepentingan nasionalnya mungkin sudah terpenuhi jika Selat Hormuz dibuka kembali
mungkin sudah terpenuhi jika Selat Hormuz dibuka
Dalam perundingan yang berlangsung, Iran menegaskan bahwa statusnya masih bersifat status quo, di mana mereka tetap mengembangkan program nuklir dan uranium. Iran menyatakan bahwa selama keinginan mereka tidak terpenuhi—seperti pemulihan kondisi Selat Hormuz, pencairan aset internasional yang dibekukan, akses perdagangan internasional, dan biaya rekonstruksi pascaperang—mereka akan tetap mempertahankan posisinya. Bahkan, Iran memanfaatkan masa 60 hari perundingan untuk memperkuat kapabilitas militer mereka, termasuk produksi drone dan rudal, sebagai langkah pertahanan diri setelah belajar dari pengalaman Libya yang kehilangan kekuatan militer dan akhirnya tumbang.
Situasi ini menjadi krusial karena jika tuntutan Iran dipenuhi, terutama akses terhadap perdagangan internasional dan penjualan minyak, posisi geopolitik Iran di Timur Tengah akan semakin kuat. Hal ini sangat tidak disukai oleh Israel. Israel berpandangan bahwa tujuan utama dari konflik ini adalah untuk melumpuhkan Iran, yang mereka anggap sebagai sponsor utama kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah. Menurut Israel, kelompok-kelompok tersebut tidak bisa dilemahkan kecuali dengan memotong saluran dukungan langsung dari pusatnya, yaitu Iran.
Bagi Amerika Serikat, kepentingan nasionalnya mungkin sudah terpenuhi jika Selat Hormuz dibuka kembali dan transaksi minyak Iran dilakukan menggunakan dolar, mirip dengan kebijakan terhadap negara-negara Teluk pada tahun 1974. Namun, bagi Israel, hal ini tidak memberikan solusi karena mereka tetap merasa terancam oleh Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Oleh karena itu, pembahasan mengenai nuklir dan uranium yang didahulukan seringkali menemui jalan buntu karena Iran menyadari bahwa jika mereka melucuti kemampuan nuklirnya terlebih dahulu, mereka akan menjadi sasaran empuk serangan Amerika dan Israel.
Model negosiasi yang saat ini berlangsung dapat digambarkan sebagai pendekatan carrot and stick, di mana Amerika memberikan stimulus (wortel) namun tetap memegang ancaman sanksi (tongkat). Iran menuntut agar stimulus tersebut diberikan terlebih dahulu sebelum mereka melangkah lebih jauh, karena mereka sadar akan risiko diserang jika hanya patuh pada tekanan. Israel, yang berperan sebagai ‘penonton’ sekaligus sponsor perang, menjadi penghambat utama dalam proses ini, yang membuat Iran akhirnya memasukkan isu Lebanon ke dalam klausul nota kesepahaman (MOU) tersebut.




