Bisnis

Begini Dari Bos Sekuritas Ungkap Efek Kebijakan MSCI ke Bursa Saham Indonesia

Efek Kebijakan MSCI ke Bursa Saham Indonesia

Dalam diskusi mengenai daya tahan pasar keuangan Indonesia, CEO Sucor Sekuritas, Bernardus Wijaya, menjelaskan bahwa meredanya konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran telah memberikan dampak positif bagi stabilitas harga minyak dunia. Saat ini, harga minyak brent berada di kisaran 76 USD per barel, yang secara fiskal membuat posisi Indonesia jauh lebih aman dibandingkan saat harga minyak melonjak di atas 90 USD per barel. Pemerintah melalui Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan juga telah mengambil langkah antisipatif dengan menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin sepanjang tahun ini, dari 4,75% menjadi 5,75%, guna memperkuat posisi mata uang Rupiah yang sempat melemah hingga angka 18.200.

Terkait pengumuman dari MSCI, Bernardus mengungkapkan bahwa meskipun Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori Emerging Market, evaluasi lanjutan akan terus dilakukan hingga November mendatang. Hal ini dipicu oleh adanya catatan dari MSCI mengenai keterbukaan informasi investor yang belum sepenuhnya jelas serta isu terkait coordinate trading. Meski demikian, Bernardus mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK, seperti kewajiban keterbukaan di atas 1%, perubahan klasifikasi investor, serta peta jalan (roadmap) free float hingga 15%. Beliau menekankan pentingnya komunikasi intensif antara otoritas bursa dengan MSCI agar Indonesia tidak lagi mengalami pembekuan penambahan konstituen di masa depan.

Bernardus menilai bahwa potensi Indonesia untuk diturunkan statusnya menjadi Frontier Market sangat kecil, yakni di bawah 10%. Pandangan ini didasarkan pada besarnya kapitalisasi pasar Indonesia yang mencapai tiga kali lipat dibandingkan negara seperti Vietnam, serta volume perdagangan harian yang berada di kisaran 15 hingga 20 triliun Rupiah, setara dengan bursa di Singapura atau Malaysia. Namun, ia menyarankan agar BEI dan OJK terus melakukan reformasi pasar, termasuk meninjau kembali kebijakan seperti Full Periodic Auction (FCA) dan keterbukaan kode broker, guna menarik minat investor asing dan memenuhi kriteria MSCI.

Menyinggung mengenai prospek rating Indonesia oleh S&P, Bernardus menyatakan optimismenya. Defisit fiskal Indonesia hingga akhir Mei 2026 tercatat sangat kecil, yakni di kisaran 70 triliun Rupiah atau sekitar 0,7% dari PDB, yang masih jauh di bawah batas undang-undang sebesar 3%. Meski ada kemungkinan outlook rating diubah dari stabil ke negatif mengikuti jejak lembaga pemeringkat lain seperti Fitch dan Moody’s, pemerintah tetap diharapkan untuk terus melakukan efisiensi anggaran, terutama pada proyek strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan infrastruktur. Selain itu, restrukturisasi utang yang jatuh tempo pada tahun 2026 juga menjadi fokus utama pemerintah untuk memastikan stabilitas ekonomi dan memberikan kepastian iklim investasi bagi investor asing.

Via
CNBC Indonesia
Source
YouTube

Anas Ibrahim

Tukang Kuli Panggul Gajih Kecil Di Indonesia Cikampek Dauwan Jawa Barat 41373

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button