solusi perdamaian yang jelas. Selama empat tahun terakhir, Ukraina berjuang keras untuk bertahan dan mempertahankan kota Kyiv
bertahan dan mempertahankan kota Kyiv
Ukraina kini menerapkan taktik yang sebelumnya digunakan oleh Iran untuk melawan kekuatan militer yang lebih besar, dalam upaya mengusir pasukan Rusia dari wilayahnya. Rusia diketahui telah melakukan invasi skala penuh sejak 24 Februari 2022, dan hingga saat ini, perang tersebut masih terus berlangsung tanpa adanya solusi perdamaian yang jelas. Selama empat tahun terakhir, Ukraina berjuang keras untuk bertahan dan mempertahankan kota Kyiv dari serangan Rusia.
Pola peperangan Ukraina mulai mengalami pergeseran signifikan. Negara pecahan Uni Soviet ini mulai mengadopsi strategi yang sempat diterapkan Iran saat menggempur Amerika Serikat dan Israel. Ukraina kini tidak lagi berfokus menyerang area pemukiman, melainkan menargetkan bangunan-bangunan vital Rusia, seperti kilang minyak, yang telah terbukti memberikan tekanan besar bagi pihak Rusia. Sebagai contoh, pada 18 Juni 2026, hampir 1.000 drone dan empat rudal jelajah Ukraina menyerbu wilayah Moskow. Ukraina juga sukses mengembangkan drone FP1 yang memiliki jangkauan hingga 3.000 km, yang salah satunya menyebabkan kerusakan pada depot minyak di wilayah Rostov Selatan dan menewaskan satu orang.
Serangan drone besar-besaran ini dijelaskan oleh pihak Ukraina sebagai balasan atas serangan Rusia pekan sebelumnya di Kyiv yang membakar sebuah bangunan keagamaan penting. Taktik ini mengingatkan pada metode serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat. Meski terkendala jarak yang jauh, Iran tetap mampu menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah serta infrastruktur penting di Israel, termasuk kilang minyak dan pusat komunikasi. Mengikuti pola serupa, Ukraina dikabarkan berhasil merusak pusat komunikasi luar angkasa Dupna di wilayah Moskow yang merupakan infrastruktur kunci untuk satelit dan komunikasi Rusia.
Akibat dari serangan-serangan masif ini, operasional Rusia sempat terganggu, termasuk penangguhan penerbangan di sejumlah bandara dekat ibu kota. Drone telah menjadi senjata andalan Ukraina dalam melancarkan serangannya. Para ahli menilai bahwa konflik di Ukraina dan Timur Tengah telah menciptakan fenomena peperangan drone asimetris, di mana aktor militer yang lebih lemah menggunakan drone untuk mengimbangi kekurangan rudal dan angkatan udara modern. Analis dari lembaga *think tank* di Prancis, Clemen Molin, menyatakan bahwa meski pesawat terbang, tank, dan infanteri tetap krusial dalam perang modern, peran drone dalam strategi militer saat ini semakin mendominasi. Kemenangan Iran dalam menghadapi kekuatan besar menjadi inspirasi bagi Ukraina bahwa negara dengan kapasitas militer lebih kecil tetap mampu melawan negara adidaya.




