Gelombang Panas di Eropa Menaik Berbahaya, Sekolah Tutup Dan Reaktor Nuklir Dihentikan
, Sekolah Tutup Dan Reaktor Nuklir Dihentikan
Musim panas di Eropa tahun ini berubah menjadi bencana. Suhu udara melonjak hingga memecahkan rekor dan puluhan orang meninggal dunia. Sekolah terpaksa ditutup, layanan kesehatan kewalahan, bahkan sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir harus menghentikan operasinya. Yang lebih mengkhawatirkan, para ilmuwan memperingatkan kondisi seperti ini bisa semakin sering terjadi di masa depan. Lantas seberapa parah sebenarnya gelombang panas yang sedang melanda Eropa?
Gelombang panas ekstrem terus menyelimuti sebagian besar wilayah Eropa Barat. Inggris dan Swiss sama-sama mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni. Di Swiss, layanan cuaca nasional melaporkan suhu mencapai 38 derajat Celcius di Kota Basel, memecahkan rekor sebelumnya yang telah bertahan selama hampir 8 dekade. Sementara itu, di Inggris, Badan Meteorologi Inggris mencatat suhu mencapai 36,4 derajat Celcius, melampaui rekor tertinggi yang baru saja tercatat sehari sebelumnya.
Andy Page, Kepala Ahli Badan Meteorologi Inggris, menjelaskan bahwa panas kali ini sangat tidak biasa. Fenomena ini datang lebih awal dari biasanya, di mana gelombang panas umumnya mencapai puncak pada Juli hingga Agustus. Udara panas yang berasal dari Afrika Utara menyebar ke Spanyol, Prancis, Belgia, Belanda, hingga Inggris, wilayah yang sebagian besar belum terbiasa menghadapi panas setinggi ini.
Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan dari suhu yang menyengat, tetapi juga dari meningkatnya jumlah korban jiwa. Di Prancis, sedikitnya 48 orang meninggal dunia akibat tenggelam karena mencoba mendinginkan tubuh di sungai, danau, maupun pantai. Selain itu, tiga anak kecil juga dilaporkan meninggal setelah terjebak di dalam mobil saat cuaca sangat panas. Sementara di Jerman, Asosiasi Penyelamat Jiwa melaporkan lebih dari 20 orang meninggal akibat kecelakaan yang berkaitan dengan aktivitas berenang. Italia melaporkan sedikitnya lima kematian, sementara sistem pemantauan di Spanyol memperkirakan gelombang panas ini berkaitan dengan lebih dari 200 kematian hanya dalam waktu 4 hari.
Panas ekstrem juga mengganggu aktivitas masyarakat. Di Prancis, pemerintah mengaktifkan tingkat mobilisasi layanan kesehatan tertinggi, di mana operasi yang tidak mendesak ditunda agar tenaga medis bisa fokus menangani pasien. Sekolah-sekolah di beberapa wilayah ditutup karena suhu ruang kelas tidak lagi aman. Di London, layanan ambulans mencatat jumlah panggilan darurat tertinggi dalam satu hari, dengan 642 panggilan kategori kritis dalam 24 jam. Operator kereta api Jerman juga memperingatkan kemungkinan keterlambatan perjalanan akibat risiko kebakaran hutan dan badai petir.
Gelombang panas juga mempengaruhi pasokan energi. Perusahaan listrik Prancis menonaktifkan tiga reaktor nuklir karena suhu sungai yang terlalu tinggi membuat air pendingin tidak memenuhi batas lingkungan yang aman. Swiss juga mengurangi operasi di pembangkit listrik tenaga nuklir dan menyatakan siap menghentikan reaktor jika suhu terus meningkat. Di Belgia, pemerintah mengeluarkan peringatan merah, sementara para peternak khawatir karena ternak mereka mengalami stres akibat suhu tinggi yang dapat menurunkan produksi susu dan daging.
Para ilmuwan kembali mengingatkan bahwa gelombang panas yang terus berulang merupakan salah satu tanda pemanasan global. Perubahan iklim membuat fenomena ini lebih sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas lebih tinggi. Meski prakiraan cuaca menunjukkan suhu akan sedikit menurun, ancaman belum sepenuhnya berakhir karena puncak musim panas di Eropa pada bulan Juli dan Agustus bahkan belum dimulai.




